Senin, 02 November 2009

membuat repository lokal di ubuntu

Repositori ini dibuat pada ubuntu seri 7.10 di dalam direktori /home/nana/repo .

Perintah – perintahnya :

1. sudo find /media/cdrom0 -name ‘*.deb’ -exec cp {} /home/nana/repo \;
2. cd /home/nana
3. sudo dpkg-scanpackages repo /dev/null | gzip -9c > repo/Packages.gz
4. gedit /etc/apt/sources.list
5. sudo apt-get update

Caranya :

* Copy semua file deb yang ada di DVD Repo ke dir /home/nana/repo, berhubung karena ada banyak sub directory di DVD Reponya maka akan sulit sekali untuk meng-copy-nya satu persatu maka pada item 1 semua file *.deb akan dicopy semuanya sekaligus, memang agak lama karena banyaknya file deb tersebut, ulangi lagi perintah item 1 untuk semua DVD Reponya ( ada 5 DVD ).
* Setelah itu menuju ke direktori penyimpanan, item 2.
* membuat List Paket dengan item 3.
* Edit file /etc/apt/sources.list dengan item no 4 kemudian pada akhir baris file tersebut tambahkan perintah berikut ini : deb file:/home/nana repo/ kemudian simpan file tersebut, sebelum melakukan edit file tersebut maka harus login dulu sebagai root di terminal agar dapat mengedit file tsb.
* Update List Paketnya dengan item no.5

Sekarang untuk melakukan instalasi aplikasi tambahan dapat dilakukan melalui Add/Remove Software secara GUI.
Selamat mencoba

televisi dan anak-anak

2.Televisi dan Anak – Anak
Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini. Kecuali Metro TV, hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak.
Bagi anak-anak, televisi menjadi cara ampuh untuk menghibur diri dikala mereka tidak bisa bermain dengan teman sebaya mareka. Bermain dengan televisi lebih baik dari pada bermain di luar dengan teman sebaya. Ditunjang dengan film-film kartun di berbagai stasiun televisi yang bagaikan cendawan di musim hujan. Tak heran jika mereka sering menolak ajakan orang tua.

Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, misalnya, mencatat, rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur .
Selain itu, YKAI menghitung bahwa sepanjang minggu kedua bulan Juli 2005, jumlah program anak-anak di semua stasiun televisi swasta mencapai 123 program. Jika dibagi jam, mencapai 180 jam. Jumlah ini, menurut Kepala Bagian Kajian Anak dan Media YKAI Guntarto, cukup tinggi. Dengan program-program sebanyak itu, orang tua tentu saja sulit untuk bisa selektif menyeleksi program anak yang kurang baik, sehingga sang anak akan bebas melahap kekerasan yang tersembunyi dalam kocaknya film kartun. Menurut Guntarto juga, hanya sekitar 10 persen saja yang aman bagi anak-anak. Beberapa penelitian menunjukan peningkatan yang cukup meyakinkan dari tahun ke tahun. Tercatat sekarang ini anak pada usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap harinya. Itu berarti mereka bisa menonton 4 hingga 5 jam pada hari-hari biasa dan 8 hingga 9 jam pada hari Minggu. Angka yang amat tinggi untuk ukuran anak-anak. Padahal, menurut psikolog yang biasa mengasuh rubrik Anda dan Buah Hati di sebuah majalah keluarga, Evi Elvianti untuk anak-anak sampai 12 tahun, rentang waktu menonton televisi adalah 1 hingga 2 jam saja. Evi juga mengingatkan agar anak usia dibawah 2 tahun, sebaiknya jangan dibiarkan terbiasa menonton televisi. Dampak pola menonton televisi yang tidak terkontrol, dapat membuat anak-anak mengalami kesulitan berkonsentrasi pada tingkat tinggi. Selain itu juga akan mengurangi pemahaman anak tentang kesuksesan. Di dalam televisi, mereka biasa melihat orang-orang kaya tampan dan cantik,namun mereka tidak akan mengerti dalam kehidupan nyata untuk mencapai proses tersebut.

Mahasiswa IT Telkom tewas dibacok perampok


Setelah bergumul hebat dengan pencuri yang tepergok masuk ke rumah orangtuanya, Ami Abdul Muhi (19), mahasiswa tingkat pertama IT Telkom ini, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, Senin pagi pukul 05.30 WIB (2/11/2009). Dia sempat dirawat sehari di RS Santosa Bandung.

Ami menderita luka menganga di bagian leher akibat digorok dan pisau yang menancap di kepala. Diiringi oleh ratusan pelayat, Ami yang merupakan warga Perum Cimahi I Blok 2 Kelurahan Cijerah Kecamatan Bandung Kulon, dimakamkan di TPU Mahmud yang jaraknya 10 km dari kediamannya pukul 11.00 WIB.

Kejadian berawal pada Minggu dini hari pukul 03.00 WIB (1/11/2009). Pencuri yang diperkirakan hanya satu orang masuk ke rumah ortu Ami, Dodi Ahmad Djajuli dengan membobol jendela rumah lantai bawah. Rumah ortu korban terdiri dari dua lantai.

"Saat kejadian ada lima orang di dalam rumah itu," ujar Ua korban Yuliansyah (47) saat ditemui di rumah korban. Kelima orang itu adalah korban, ayah korban Dodi, ibu korban Siti Susilawati, adik korban, dan seorang pembantu.

Kamar Ami berada di lantai bawah. Diduga si pencuri masuk pertama kali ke kamar korban. Namun karena korban tertidur pulas, hal ini tak diketahui korban.

"Sepertinya si pelaku bawa barang di kamar Ami, tapi belum tahu bawa barang apa," ujar Yuliansyah.

Lalu, si pencuri naik ke lantai dua, tempat kamar orangtua korban. Aksinya ini diketahui oleh Dodil, ayah korban, yang terbangun. Dodi kemudian teriak "Maling!". Karena tepergok, pelaku kemudian lari namun dikejar oleh Dodi.

Pelaku berhasil terkejar dan kemudian Dodi dan si pencuri sempat bergumul di halaman rumah. Mendengar keributan, Ami pun terbangun. Dodi rupanya kalah tenaga, dia berhasil dilukai oleh si pencuri. Pipi dan tangan kirinya kena sabetan pisau.



Melihat hal itu, kisah Yuliansyah, Ami kemudian membantu ayahnya dan berkelahi dengan si pencuri. Namun karena tak seimbang, si pencuri berhasil menjepit Ami dari belakang lalu menggorok leher Ami dan sebelum lari, si pelaku menancapkan pisaunya di kepala korban. Ami pun jatuh tersungkur bersimbah darah, sementara si pelaku berhasil melarikan diri membawa sebuah handphone.

"Awalnya si pencuri sudah berhasil membawa dua buah laptop dan HP, tapi karena berhasil terkejar, laptopnya tak terbawa si pencuri," tutur Yuliansyah.

Ami kemudian dilarikan ke RS Santosa Bandung dan sempat mendapatkan tindakan, sebelum akhirnya meninggal tadi pagi.

Saat ini, kasus ini sedang ditangani oleh Polsek Bandung Kulon. Pencuri belum berhasil ditangkap.